BEDAH DINAMIKA PESANTREN, PRODI SOSIOLOGI AGAMA UIN KEDIRI SOROTI POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
FUDA Newsroom – Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan
Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri kembali mempertajam nalar kritis akademik
melalui agenda Diskusi Dosen Bulanan edisi Juni 2026. Forum ilmiah bertajuk “Pesantren, Dakwah, dan Pengembangan
Masyarakat” ini digelar khidmat di Kediaman Asyhabuddin, Krandang, Kras,
Kediri, pada Rabu (17/6/2026).
Forum yang dipandu oleh moderator Gigih Wahyu Pratomo, ini
menjadi ruang dialektika penting bagi segenap dosen Sosiologi Agama serta
perwakilan prodi di lingkungan FUDA untuk membedah transformasi historis dan
tantangan kontemporer dunia pesantren.
Asyhabuddin, dalam presentasinya memaparkan bahwa pesantren tradisional di
Indonesia mengemban peran ganda yang integratif sebagai lembaga pendidikan
keagamaan (tafaqquh fid din)
sekaligus penggerak sosial. Seiring perubahan zaman, orientasi dakwah mengalami
pergeseran taktis.
"Pemisahan antara aktivitas pengembangan
masyarakat dan dakwah dinilai tidak tepat karena keduanya merupakan satu
kesatuan. Orientasi dakwah pesantren kini bertransformasi dari sekadar lisan (bil lisan) yang fokus pada
aspek spiritual, menjadi tindakan nyata (bil hal) dan argumentatif (bil mujadalah) demi merespons kemiskinan serta
masalah sosial-ekonomi di pedesaan," papar Asyhabuddin.
Ia menambahkan, gerakan pemberdayaan ini berevolusi dari
watak developmentalis (era 1970-1980an) menuju watak kritis yang dipelopori
Forum Silaturrahmi Petani dan Pesantren (FSPP) pada era 2000-an. Seluruh
gerakan ini diuji akuntabilitasnya melalui kelayakan fikih (fiqih feasibility) berbasis
kemaslahatan umat (maslahah)
dengan tetap mempertahankan sikap moderat (tawasuth).
Perspektif sosiologis yang lebih tajam dilemparkan oleh Jati Pamungkas, mengambil
komparasi kesuksesan Pondok Pesantren Maslakul Huda Pati di bawah asuhan KH.
Sahal Mahfudz, Jati mengaitkannya dengan teori otoritas karismatik Max Weber
yang rentan dalam hal keberlanjutan institusi.
"Kondisi ini masih relevan di Indonesia karena
kuatnya budaya feodal dan patronase yang menyebabkan keberhasilan program lebih
melekat pada figur pemimpin daripada pada institusi yang dibangunnya,"
tutur Jati.
Merespons hal tersebut, dosen sekaligus Sekretaris Prodi
Sosiologi Agama FUDA UIN Syekh Wasil Kediri, M. Syahrul Ulum, mengingatkan
aspek preventif dalam gerakan ini. Menurutnya, pesantren harus memiliki
antisipasi lebih terhadap potensi disfungsi sosial yang justru bisa keluar dari
jalur dakwah maupun pemberdayaan.
Sebagai penutup ulasan teoritis, Ika Silviana, menekankan
tiga pilar utama pemberdayaan modern. "Dalam hal pemberdayaan masyarakat,
konsep pemungkinan (enabling),
penguatan (empowering), dan
perlindungan (protecting)
penting untuk membangun kemandirian lokal dan berkesinambungan," tegasnya.
Agenda bulanan ini diakhiri dengan penyampaian informasi penting terkait
pengembangan keprodian ke depan oleh Ketua Prodi Sosiologi Agama FUDA UIN Syekh
Wasil Kediri, Asyari.
Melalui forum berkala seperti ini, Prodi Sosiologi
Agama berkomitmen untuk terus memproduksi pemikiran transformatif yang
berdampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkokoh reputasi akademik
institusi di tingkat nasional.
Kontributor: M. Syahrul Ulum
Editor: Fuat Hasan



