MENELUSURI RELASI ANTAR AGAMA DALAM MASYARAKAT MULTIKULTUR


Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUDA) Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri kembali menggelar seminar bulanan bertajuk "Relasi Agama-Agama dalam Masyarakat Multikultur: Pengalaman Tiga Negara". Acara ini diselenggarakan pada hari Senin, 12 Oktober 2026, bertempat di Musholla Lt. 1 Gedung FUDA UIN Kediri.

 

Diskusi menghadirkan Imroatul Hasanah, Ph.D., Ibrahim Bin Sa'id, Ph.D., dan Dr. M. Thoriqul Huda sebagai pembicara. Ketiganya merupakan akademisi di UIN Kediri dengan latarbelakang yang berbeda. Imroatul Hasanah adalah dosen tekhnologi pembelajaran, tetapi tinggal cukup lama dalam masyarakat multikultur dan multirelijius di Australia. Ibrahim Bin Sa’id merasakan langsung laïcité (sekularisme negara) selama studi doktoralnya di Perancis. Sedangkan M. Thoriqul Huda berangkat dari tema disertasinya tentang relasi Islam dan Kristen di Kediri. Dia juga selama ini aktif dalam gerakan moderasi dan toleransi agama.

 

Pada kesempatan pertama, Imroatul Hasanah memaparkan sudut pandangnya selama di Australia, tepatnya di Darwin. Dia menggambarkan Darwin sebagai kota multikultur yang sangat terbuka, inklusif, dan menghargai perbedaan. Masyarakat Darwin terdiri dari penduduk Aborigin, warga lokal, serta komunitas pendatang dari berbagai penjuru dunia. Berbagai agama, Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, dan kepercayaan Aborigin, hidup berdampingan secara damai. Menurutnya, “Australia menjadi contoh bagaimana keragaman agama dan budaya dikelola. Pluralitas bukan penghalang integrasi sosial, melainkan kekuatan yang menyatukan Masyarakat”.

 

Berikutnya, Ibrahim Bin Sa'id membagikan refeleksi pengalaman personal dan akademisnya selama menetap di tiga kota di Prancis: Paris (2015), Lille (2016), dan Lyon (2019–2022).  Menurut Ibrahim, Perancis cukup berbeda. Prinsip sekularisme (laïcité) betul-betul bekerja dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pemerintah membatasi setiap artikulasi agama. Simbol-simbol agama seperti salib, jilbab, turbah, dan seterusnya dilarang dipakai di lembaga-lembaga negeri. Dia menegaskan bahwa agama tidak hilang dari kehidupan masyarakat Perancis, melainkan hadir dalam bentuk yang berdimensi privat.

 

Adapun M. Thoriqul Huda sebagai pembicara terakhir mengelaborasi relasi antara komunitas Muslim dan Kristen di Kediri. Menurut Thoriq, relasi tersebut terbentuk secara historis melalui interaksi sosial, negosiasi identitas, serta pengalaman hidup bersama sehari-hari. Relasi Islam dan Kristen di Kediri memiliki rekam jejak panjang yang tidak terpisahkan dari perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya sejak masa kolonial. Secara khusus, Thoriq mengangkat kasus Sidorejo dan Segaran, di mana umat Islam berkedudukan sebagai kelompok minoritas. “Kebebasan beribadah dan partisipasi aktif warga muslim menunjukkan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan wujud nyata dari keadilan dan kesetaraan”, tuturnya.

 

Pada sesi tanya jawab, Profesor Fauzan Saleh mengkritik arah diskusi yang monoton. Menurutnya, pembicara terjebak pada citra harmonis dan toleran kehidupan keagamaan di Barat. “Seakan-akan kehidupan di Barat berjalan linear, tidak ada konflik, tidak ada benturan rasial dan agama. Padahal kita tahu, banyak problem yang di negara-negara barat. Terutama islamophobia, sebelum maupun setelah tragedi 09/2001”.

 

Senada dengan problem tersebut, penanya kedua, Zuhri Humaidi, merujuk pada teori Multikulturalisme. Menurutnya, basis relasi sosial di negara-negara barat adalah kebebasan dan hak individu, sehingga mengabaikan hak kultural,-hak komunitas, dan hak kelompok. “Inilah yang menjadi pusat kritik para pemikir Multikulturalisme, seperti Bikhu Parekh, terhadap konsep Pluralisme. Krisis faktualnya terjadi di negara-negara seperti Perancis dan Amerika, termasuk juga di Australia dan Indonesia”, ungkapnya.

 

Diskusi menjadi lebih meriah dengan komentar dari peserta yang lain. Para peserta diskusi membagikan pengalaman empiris, studi komparatif, dan refleksi kritis mengenai dinamika kehidupan beragama di berbagai tempat. Acara kemudian berakhir jam 12, dengan kesimpulan perlunya refleksi dan perbaikan terus menerus wacana moderasi dan relasi agama di masyarakat.

Kontributor : Zuhri Humaidi


Berita Lainnya