MENYOAL STEREOTIP POLITIK JAWA, FUDA UIN SYEKH WASIL KEDIRI GELAR DISKUSI
FUDA Newsroom – Pemahaman tentang
dinamika politik orang Jawa selama ini dinilai lebih sering terjebak dalam
stereotip simplistik ketimbang realitas faktual. Merespon hal tersebut,
Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri menggelar diskusi
bulanan bertajuk “Ketika Orang Jawa Berpolitik: Rasionalitas, Patronase, dan
Pergulatan Identitas” pada Senin (17/6/2026).
Diskusi ilmiah yang berlangsung
dinamis di Musala lantai 1 FUDA ini menghadirkan dua pakar sosiologi agama UIN
Syekh Wasil Kediri, Taufiq Alamin dan Asy’ari, sebagai pembicara utama. Agenda
ini menjadi bukti nyata komitmen keilmuan di lingkungan FUDA, khususnya dalam
memperkuat kajian kritis pada disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
Pada sesi pertama, Taufiq Alamin
membedah anggapan keliru yang kerap melekat pada perilaku politik Jawa, seperti
citra santun namun culas, harmoni semu, hingga konsep manungaling kawulo gusti.
Menurutnya, penciri tersebut tidak selalu adaptif dengan realitas hari ini.
"Orang Jawa memang memiliki
nilai-nilai budaya yang khas, termasuk dalam berpolitik. Tapi toh pada
akhirnya, unsur-unsur lain seperti rasionalitas, modernitas, sistem politik,
dan tujuan pragmatislah yang lebih menentukan," tegas Taufiq. Menurutnya,
Jawa pada akhirnya sama dengan etnis-etnis yang lain. Bahkan, batasan tentang
Jawa bersifat kompleks. Apakah Jawa merujuk pada lokasi geografis, bahasa, asal
keturunan, sejarah, atau ciri-ciri fisik.
Lebih lanjut, Taufiq memetakan
kompleksitas wilayah budaya di Jawa Timur yang terbagi menjadi empat sub-kultur
besar: Mataraman (Utara dan Selatan), Arek (Surabaya), Madura, dan Pandhalungan
(Timur). Keberagaman ini menegaskan bahwa karakter politik Jawa tidak bisa
disamaratakan.
Senada dengan hal itu, Asy’ari
selaku pemateri kedua mengajukan gugatan epistemologis terkait kaburnya
definisi 'Jawa' itu sendiri. Mengutip pemikiran Ben Anderson, Asy'ari
mencontohkan kontinuitas linguistik di mana kata "tasik" (laut) pada
era Majapahit justru kini lestari dalam bahasa Madura, sementara orang Jawa
modern bergeser menggunakan kata "segoro".
"Jangan-jangan unsur
konstitutif dari budaya Madura dan Jawa itu sama. Kalau yang dimaksud Jawa saja
tidak jelas, lantas bagaimana caranya kita mengidentifikasi karakter politik
orang Jawa?" pungkas Asy'ari secara kritis.
Diskusi yang berlangsung hingga
pukul 13.00 WIB ini memantik nalar kritis para peserta. Beberapa respons ilmiah
mencuat selama sesi tanya jawab. Lukman Hakim menyoal rasionalitas dalam
politik. Menurutnya, manusia modern tidak selalu mendasarkan tindakan
politiknya pada akal sehat. Contohnya, mitos kejatuhan seorang pemimpin ketika
mengunjungi Kediri. Keyakinan itu mitos, tapi tetap dipercaya oleh pemimpin
politik di era modern.
Zuhri Humaidi menambahkan, bahwa
eksistensi Jawa dipengaruhi oleh obsesi akan keaslian. Ada Jawa yang asli dan
tidak asli. Hal itu pada gilirannya melahirkan kebencian, antara aku yang asli
dan mereka yang tidak asli. Karena obsesi akan keaslian selalu diikuti oleh
semangat pemurnian. Padahal Jawa adalah amalgamasi, hasil silang budaya antar
berbagai anasir kebudayaan.
Menutup diskusi, Yuli Darwati
tetap berharap meskipun Jawa bersifat abstrak. Tapi ia tetap mengharap budaya
tersebut tetap eksis. “Karena melalui budaya Jawa, saya hidup, berinteraksi,
bekerja, dan mendidik anak-anak. Semua manusia tidak bisa hidup di luar kebudayaan”,
pungkasnya.
Melalui forum-forum kajian
seperti ini, FUDA UIN Syekh Wasil Kediri—khususnya rumpun keilmuan studi sosial
dan humaniora—terus memantapkan posisinya sebagai kiblat pemikiran Islam
transformatif yang responsif terhadap realitas sosial-politik kontemporer.
Kontributor: Zuhri Humaidi
Editor: Fuat Hasan

