LAWAN DOMINASI PATRIARKI, FUDA UIN SYEKH WASIL KEDIRI BEDAH 'FIQIH MATRIARKI' DI DUNIA PESANTREN
FUDA Newsroom – Fakultas Ushuluddin dan
Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri kembali membuktikan konsistensi
intelektualnya. Di tengah situasi global yang tak menentu, FUDA menggelar
diskusi bulanan dosen bertajuk "Fiqih Matriarki:
Eksistensi dan Resistensi" di Aula Lantai 3 FUDA, Senin
(13/4/2026).
Diskusi yang telah berjalan
selama 2,5 tahun ini menjadi bukti napas panjang sivitas akademika dalam
menjaga tradisi literasi. Dekan FUDA UIN Syekh Wasil, Prof. A. Halil Thahir,
menegaskan bahwa peradaban besar dibangun dari langkah-langkah kecil yang
konsisten.
"Masih terlalu dini untuk
disebut tradisi, tapi cukup untuk membuktikan bahwa kita masih punya spirit
intelektual dan nafas panjang untuk menjaganya," ujar Prof. Halil dalam
sambutannya.
Menghadirkan dua pakar Ushul
Fiqih, Moh. Shofiyul Huda MF dan Syaiful Bahri, diskusi ini menyoroti fenomena
menarik di Jawa Timur: lahirnya Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3).
Forum ini dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap konstruksi fiqih pesantren
yang selama ini dianggap misoginis dan patriarkis.
Narasumber utama, Moh. Shofiyul Huda, memaparkan temuan risetnya mengenai pergeseran dominasi laki-laki dalam produksi hukum Islam di pesantren. Ia menyoroti peran Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur sebagai bentuk nyata Fiqh al-Nisa'.
Shofiyul menjelaskan tiga pilar penting dalam konsep ini:
1. Fiqh fi al-nisa’: Fikih tentang perempuan.
2. Fiqh li al-nisa’: Fikih untuk kepentingan perempuan.
3. Fiqh min al-nisa’: Fikih yang dirumuskan langsung oleh perempuan.
"Kehadiran delegasi dari 127 pesantren dalam Bahtsul Masa'il putri adalah manifestasi nyata. Ini adalah bentuk resistensi terhadap wacana patriarki, maka relevan jika kita sebut sebagai ‘Fiqih Matriarki’," tegas Shofiyul.
Diskusi berlangsung dinamis saat Syaiful Bahri memberikan catatan kritis. Menurutnya, istilah "Matriarki" berisiko membawa bias baru, sebagaimana istilah "Patriarki". Ia menawarkan istilah yang lebih moderat seperti fiqih mubadalah atau fiqih kesetaraan.
Kritik juga datang dari Prof.
Robingatun yang mengingatkan agar akademisi tetap kritis terhadap perspektif
barat dalam melihat relasi gender di masyarakat lokal yang seringkali
sebenarnya harmonis.
Meski lokasi diskusi sempat
dipindahkan karena renovasi, antusiasme 40-an dosen dan mahasiswa tidak surut.
Kabag Umum FUDA, Husnu Rofiq, menjelaskan bahwa pimpinan fakultas berkomitmen
penuh memfasilitasi kegiatan intelektual semacam ini.
"Musala FUDA sedang
direnovasi dan akan dilengkapi fasilitas seperti smart TV, AC, hingga
sound system baru. Ini adalah bentuk apresiasi pimpinan
terhadap kegiatan intelektual dan spiritual di kampus," pungkas Husnu.
Kontributor: Zuhri Humaidi
Editor: Fuat Hasan

