Unggul dalam Pengembangan Ilmu Keislaman dan Sosial Keagamaan Berbasis Kearifan Lokal dan Sains di Tingkat Internasional

Contact Info

Jl. Sunan Ampel, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64129
[email protected]
0354 - 689282

Follow Us

LAWAN DOMINASI PATRIARKI, FUDA UIN SYEKH WASIL KEDIRI BEDAH 'FIQIH MATRIARKI' DI DUNIA PESANTREN

FUDA Newsroom – Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri kembali membuktikan konsistensi intelektualnya. Di tengah situasi global yang tak menentu, FUDA menggelar diskusi bulanan dosen bertajuk "Fiqih Matriarki: Eksistensi dan Resistensi" di Aula Lantai 3 FUDA, Senin (13/4/2026).

 

Diskusi yang telah berjalan selama 2,5 tahun ini menjadi bukti napas panjang sivitas akademika dalam menjaga tradisi literasi. Dekan FUDA UIN Syekh Wasil, Prof. A. Halil Thahir, menegaskan bahwa peradaban besar dibangun dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

"Masih terlalu dini untuk disebut tradisi, tapi cukup untuk membuktikan bahwa kita masih punya spirit intelektual dan nafas panjang untuk menjaganya," ujar Prof. Halil dalam sambutannya.

 

Menghadirkan dua pakar Ushul Fiqih, Moh. Shofiyul Huda MF dan Syaiful Bahri, diskusi ini menyoroti fenomena menarik di Jawa Timur: lahirnya Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3). Forum ini dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap konstruksi fiqih pesantren yang selama ini dianggap misoginis dan patriarkis.

Narasumber utama, Moh. Shofiyul Huda, memaparkan temuan risetnya mengenai pergeseran dominasi laki-laki dalam produksi hukum Islam di pesantren. Ia menyoroti peran Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur sebagai bentuk nyata Fiqh al-Nisa'.

Shofiyul menjelaskan tiga pilar penting dalam konsep ini:

1. Fiqh fi al-nisa’: Fikih tentang perempuan.

2. Fiqh li al-nisa’: Fikih untuk kepentingan perempuan.

3. Fiqh min al-nisa’: Fikih yang dirumuskan langsung oleh perempuan.

"Kehadiran delegasi dari 127 pesantren dalam Bahtsul Masa'il putri adalah manifestasi nyata. Ini adalah bentuk resistensi terhadap wacana patriarki, maka relevan jika kita sebut sebagai ‘Fiqih Matriarki’," tegas Shofiyul.


Diskusi berlangsung dinamis saat Syaiful Bahri memberikan catatan kritis. Menurutnya, istilah "Matriarki" berisiko membawa bias baru, sebagaimana istilah "Patriarki". Ia menawarkan istilah yang lebih moderat seperti fiqih mubadalah atau fiqih kesetaraan.

Kritik juga datang dari Prof. Robingatun yang mengingatkan agar akademisi tetap kritis terhadap perspektif barat dalam melihat relasi gender di masyarakat lokal yang seringkali sebenarnya harmonis.

 

Meski lokasi diskusi sempat dipindahkan karena renovasi, antusiasme 40-an dosen dan mahasiswa tidak surut. Kabag Umum FUDA, Husnu Rofiq, menjelaskan bahwa pimpinan fakultas berkomitmen penuh memfasilitasi kegiatan intelektual semacam ini.

"Musala FUDA sedang direnovasi dan akan dilengkapi fasilitas seperti smart TV, AC, hingga sound system baru. Ini adalah bentuk apresiasi pimpinan terhadap kegiatan intelektual dan spiritual di kampus," pungkas Husnu.

 

Kontributor: Zuhri Humaidi

Editor: Fuat Hasan


Berita Lainnya