SAMBUT DISKUSI 'SISI DINAMIS', SOSIOLOGI AGAMA UIN KEDIRI BEDAH JURNAL REPUTASI KARYA DR. FUAD FAIZI

FUDA Newsroom – Program Studi Sosiologi Agama (SA) UIN Syekh Wasil Kediri kembali membuktikan komitmennya dalam menghidupkan tradisi berpikir kritis. Melalui forum diskusi rutin "Sisi Dinamis", prodi ini membedah artikel ilmiah mendalam karya Dr. Fuad Faizi, M.A. bertajuk “The Champion of the Grassroots Revisited” yang mengkaji ulang peran budaya dan aktivisme lingkungan Emha Ainun Najib (Cak Nun) di Pegunungan Kendeng, Pati, Selasa (14/7/2026).

Diskusi yang dipandu oleh Gigih Wahyu Pratomo, di lingkungan kampus ini menyoroti bagaimana figur publik dengan otoritas moral-kultural seperti Cak Nun dipandang secara beragam oleh kelompok sosial yang berkonflik dalam pusaran industri semen.

Dalam pemaparannya, Fuad Faizi, menegaskan bahwa kajian sosiologis yang dipublikasikan di Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman (2022) ini tidak bertujuan mendeligitimasi ketokohan Cak Nun.

"Penelitian ini berusaha menunjukkan bagaimana panggung budaya bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan arena produksi makna dan negosiasi kepentingan. Di tengah konflik semen Kendeng, pesan yang disampaikan Cak Nun ditafsirkan secara berbeda hingga memicu fragmentasi di masyarakat. Predikatnya sebagai champion of the grassroots perlu dibaca secara kontekstual, bukan label mutlak," papar Fuad Faizi.

Kajian kritis ini memantik respons hangat dari jajaran dosen Sosiologi Agama yang hadir. Jati Pamungkas, dan Ika Silviana, mengapresiasi keberhasilan penelitian ini dalam memadukan teori ruang sosial Henri Lefebvre dengan realitas lapangan konflik lingkungan.

Sementara itu, M. Thoriqul Huda, menggarisbawahi pentingnya objektivitas akademisi saat meneliti tokoh besar. "Analisis sosiologi tidak boleh terjebak pada pengkultusan maupun penolakan, melainkan harus berdiri tegak di atas data empiris dan argumen ilmiah," tuturnya.

Menutup kegiatan, Ketua Program Studi Sosiologi Agama, Asyari, mengajak seluruh civitas akademika untuk terus merawat iklim intelektual ini secara berkelanjutan.

"Forum 'Sisi Dinamis' harus terus menjadi ruang kolaborasi akademik yang melahirkan gagasan-gagasan kritis, memperkuat budaya riset, sekaligus menjawab berbagai fenomena sosial-keagamaan kontemporer di masyarakat," pungkas Asyari.

Kontributor: M. Syahrul Ulum

Editor: Fuat Hasan


Berita Lainnya