FUDA UIN SYEKH WASIL KEDIRI GELAR DISKUSI ILMIAH: MEMBEDAH KONSTRUKSI SOSIAL DAN KEBIJAKAN DI BALIK BENCANA
FUDA Newsroom – Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri
menggelar diskusi dosen mendalam bertajuk “Belajar dari Bencana: dari Takdir ke
Resiko, dari Tradisi ke Mitigasi” pada Senin (9/2/2026). Forum ini menghadirkan
perspektif kritis mengenai apakah bencana merupakan fenomena alamiah murni atau
hasil konstruksi kebijakan yang keliru.
Diskusi yang berlangsung di Musala FUDA ini
menghadirkan dua pakar Sosiologi Agama, Trimurti Ningtyas dan Fuad Faizi. Forum
ini menegaskan posisi FUDA sebagai pusat keilmuan yang responsif terhadap
isu-isu kemanusiaan dan ekologi.
Dalam paparannya, Trimurti Ningtyas menekankan
pergeseran paradigma dari fatalisme (takdir) menuju pengelolaan risiko.
Menurutnya, sains modern memungkinkan bencana diantisipasi melalui mitigasi
yang terencana. Namun, ia memberikan catatan kritis pada pendekatan yang
terlalu teknokratis.
"Sains modern sering mengabaikan kearifan
lokal, agama, dan tradisi. Akibatnya, praktik mitigasi sering tidak efektif
karena kurangnya koordinasi. Mitigasi menuntut kolaborasi lintas sektor; negara
bukan satu-satunya pihak yang harus hadir," tegas alumnus Undip Semarang
tersebut.
Dalam perspektif lain, Fuad Faizi melontarkan
kritik lebih tajam. Ia menyebut istilah Capitalocene untuk menggambarkan
bahwa krisis iklim saat ini bukan sekadar aktivitas manusia secara umum,
melainkan dampak dari logika akumulasi modal.
“Seluruh narasi mitigasi dan resiliensi
seringkali menjadi konstruksi negara untuk memisahkan bencana dari masalah
politik. Padahal, bencana seringkali 'diproduksi' secara sadar oleh
industrialisasi yang difasilitasi negara demi keuntungan elit,” ungkap Faizi di
hadapan para peserta.
Diskusi berlangsung dinamis dengan kehadiran
sejumlah Guru Besar, diantaranya Prof. Ahmad Subakir, Prof. A. Halil Thahir,
dan Prof. Robingatun. Wakil Dekan II Fuda, M. Qomarul Huda menilai pertemuan
dua sudut pandang—teknokratis dan dekonstruktif—merupakan kekuatan utama kampus
dalam membedah persoalan publik.
Apresiasi juga datang dari Prof. Dimyati Huda.
Ia menekankan bahwa pergulatan pemikiran seperti ini adalah identitas asli
sebuah universitas.
"Jangan sampai kampus hanya sibuk dengan
urusan administrasi. Pergulatan pemikiran ini adalah tanda bahwa ini adalah
kampus, bukan kantor kelurahan atau KUA. Hasil diskusi ini harus menjadi
rekomendasi bagi pengambil kebijakan," pungkas Prof. Dimyati.
Forum yang berlangsung selama tiga jam ini
membuktikan komitmen FUDA UIN Syekh Wasil Kediri dalam memproduksi pengetahuan
yang tidak hanya teoritis, tetapi juga berdampak bagi transformasi sosial dan
keadilan sistemik.
Kontributor: Zuhri Humaidi | Editor:
Fuat Hasan


