Unggul dalam Pengembangan Ilmu Keislaman dan Sosial Keagamaan Berbasis Kearifan Lokal dan Sains di Tingkat Internasional

Contact Info

Jl. Sunan Ampel, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64129
[email protected]
0354 - 689282

Follow Us

FUDA UIN SYEKH WASIL KEDIRI GELAR DISKUSI ILMIAH: MEMBEDAH KONSTRUKSI SOSIAL DAN KEBIJAKAN DI BALIK BENCANA

FUDA Newsroom – Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri menggelar diskusi dosen mendalam bertajuk “Belajar dari Bencana: dari Takdir ke Resiko, dari Tradisi ke Mitigasi” pada Senin (9/2/2026). Forum ini menghadirkan perspektif kritis mengenai apakah bencana merupakan fenomena alamiah murni atau hasil konstruksi kebijakan yang keliru.

Diskusi yang berlangsung di Musala FUDA ini menghadirkan dua pakar Sosiologi Agama, Trimurti Ningtyas dan Fuad Faizi. Forum ini menegaskan posisi FUDA sebagai pusat keilmuan yang responsif terhadap isu-isu kemanusiaan dan ekologi.

Dalam paparannya, Trimurti Ningtyas menekankan pergeseran paradigma dari fatalisme (takdir) menuju pengelolaan risiko. Menurutnya, sains modern memungkinkan bencana diantisipasi melalui mitigasi yang terencana. Namun, ia memberikan catatan kritis pada pendekatan yang terlalu teknokratis.

"Sains modern sering mengabaikan kearifan lokal, agama, dan tradisi. Akibatnya, praktik mitigasi sering tidak efektif karena kurangnya koordinasi. Mitigasi menuntut kolaborasi lintas sektor; negara bukan satu-satunya pihak yang harus hadir," tegas alumnus Undip Semarang tersebut.

Dalam perspektif lain, Fuad Faizi melontarkan kritik lebih tajam. Ia menyebut istilah Capitalocene untuk menggambarkan bahwa krisis iklim saat ini bukan sekadar aktivitas manusia secara umum, melainkan dampak dari logika akumulasi modal.

“Seluruh narasi mitigasi dan resiliensi seringkali menjadi konstruksi negara untuk memisahkan bencana dari masalah politik. Padahal, bencana seringkali 'diproduksi' secara sadar oleh industrialisasi yang difasilitasi negara demi keuntungan elit,” ungkap Faizi di hadapan para peserta.

Diskusi berlangsung dinamis dengan kehadiran sejumlah Guru Besar, diantaranya Prof. Ahmad Subakir, Prof. A. Halil Thahir, dan Prof. Robingatun. Wakil Dekan II Fuda, M. Qomarul Huda menilai pertemuan dua sudut pandang—teknokratis dan dekonstruktif—merupakan kekuatan utama kampus dalam membedah persoalan publik.

Apresiasi juga datang dari Prof. Dimyati Huda. Ia menekankan bahwa pergulatan pemikiran seperti ini adalah identitas asli sebuah universitas.

"Jangan sampai kampus hanya sibuk dengan urusan administrasi. Pergulatan pemikiran ini adalah tanda bahwa ini adalah kampus, bukan kantor kelurahan atau KUA. Hasil diskusi ini harus menjadi rekomendasi bagi pengambil kebijakan," pungkas Prof. Dimyati.

Forum yang berlangsung selama tiga jam ini membuktikan komitmen FUDA UIN Syekh Wasil Kediri dalam memproduksi pengetahuan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga berdampak bagi transformasi sosial dan keadilan sistemik.

Kontributor: Zuhri Humaidi   |           Editor: Fuat Hasan


Berita Lainnya