KETIKA KAMPUS GAGAL MENDIDIK HATI: URGENSI PENDEKATAN TASAWUF PSIKOTERAPI DALAM MEMULIHKAN ETIKA AKADEMIK
Oleh:
Ach. Shodiqil Hafil
(Kaprodi Tasawuf Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri)
Pekan ini, ruang publik dikejutkan oleh dua peristiwa yang lahir dari
rahim kampus-kampus terpandang di negeri ini. Yang pertama adalah terkuaknya
dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Indonesia (FH UI) melalui grup percakapan bernama "Basecamp
Puri Asih"—sebuah nama yang diambil dari indekos tempat para mahasiswa itu
tinggal bersama (Kompas.com, 15 April 2026). Grup tersebut menjadi panggung
bagi perendahan martabat terhadap sedikitnya 20 mahasiswi dan 7 dosen yang nama
serta foto-foto mereka dijadikan objek pembicaraan bernada vulgar dan menghina
(Kompas.id, 14 April 2026). Ironi yang paling menyayat hati justru terletak
pada identitas para pelaku: mereka adalah mahasiswa hukum, orang-orang yang
sehari-hari bergelut dengan norma, keadilan, dan undang-undang. "Kasus di
Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjadi alarm keras. Pelanggaran hukum
justru terjadi di tempat orang belajar hukum," tegas Ubaid Matraji,
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) (Antara, 14
April 2026).
Belum reda guncangan dari Depok, publik kembali disuguhi video
lawas yang kembali viral. Kali ini dari Bandung. Sebuah rekaman yang
menampilkan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang Institut
Teknologi Bandung (ITB) tengah asyik bernyanyi dan menari, baik mahasiswa maupun
mahasiswi, mengikuti irama lagu berjudul "Erika" (Kompas.com, 15
April 2026). Lirik lagu tersebut dinilai sarat dengan konten vulgar dan
objektifikasi terhadap perempuan. Yang lebih memilukan, lagu ini bukanlah karya
baru yang mendadak muncul. Pihak HMT-ITB menjelaskan bahwa Orkes Semi Dangdut
telah berdiri sejak 1970-an, sementara lagu "Erika" diciptakan pada
era 1980-an dan terus dinyanyikan dari generasi ke generasi tanpa pernah
dipertanyakan ulang nilai-nilai yang dikandungnya (Harian Disway, 15 April 2026).
Pihak HMT-ITB akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan mengakui adanya
"kelalaian karena tetap menampilkan lagu tersebut tanpa mempertimbangkan
perubahan norma sosial dan nilai kesusilaan yang berkembang di masyarakat saat
ini" (Kompas.com, 15 April 2026).
Dua peristiwa ini, meski berbeda lokasi dan konteks, menyimpan
benang merah yang sama: krisis etika di ruang-ruang yang seharusnya menjadi
benteng peradaban. JPPI mencatat, sepanjang Januari hingga Maret 2026 saja,
telah terjadi 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, dengan kekerasan
seksual mendominasi sebesar 46 persen (BBC News Indonesia, 14 April 2026).
"Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan bukan lagi insiden sporadis,
melainkan fenomena sistemik yang terjadi secara berulang dan tersebar
luas," ujar Ubaid Matraji (Pikiran Rakyat, 15 April 2026).
Ketika
Kecerdasan Kehilangan Mata Hati
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ruang-ruang akademik yang
katanya menjadi laboratorium etika dan rasionalitas justru berubah menjadi
panggung bagi kesombongan struktural dan kekerasan simbolik? Analisis dari Mubadalah.id
menegaskan bahwa kekerasan seksual di perguruan tinggi tidak berdiri sendiri.
Ia adalah bagian dari struktur sosial yang lebih luas. Widiantini (2021)
menegaskan bahwa kekerasan seksual di kampus tidak dapat dipisahkan dari budaya
patriarki dan rape culture—situasi yang membuat relasi kuasa menjadi
timpang dan korban sering kali tidak mendapatkan perlindungan yang memadai
(Mubadalah.id, 15 April 2026). Dalam konteks FH UI, para pelaku mayoritas
berasal dari latar belakang sosial-ekonomi mapan, sekolah-sekolah elite di
Jakarta Selatan, dan jejaring "jalur orang tua"—sebuah potret
sosiologis yang jujur tentang bagaimana privilese dapat melanggengkan
ketimpangan dan kekerasan simbolik di ruang akademik (unggahan Instagram
@rian.fahardhi, April 2026).
Di titik inilah, kita perlu melirik sebuah pendekatan yang mungkin
selama ini terpinggirkan dalam diskursus pendidikan tinggi arus utama:
integrasi spiritualitas dalam psikoterapi. Dalam diskusi yang berkembang di
kalangan akademisi, muncul istilah sustained attention atau atensi
berkelanjutan—sebuah konsep dalam psikologi kognitif yang merujuk pada
kemampuan mempertahankan fokus dan konsentrasi dalam jangka waktu panjang.
Masalahnya, di era banjir informasi dan distraksi digital, atensi kita sebagai
masyarakat sering kali pendek dan mudah teralihkan. Kita sibuk bereaksi
terhadap viralitas, tetapi gagal merawat akar masalah secara berkelanjutan.
Nah, dalam khazanah Islam, ada sebuah konsep yang jauh lebih dalam
dan transformatif: muraqabah. Secara etimologis, istilah ini berasal
dari akar kata Arab ra-qa-ba yang berarti "mengawasi, mengamati,
memerhatikan dengan saksama". Tujuan dari muraqabah adalah
menumbuhkan kesadaran akan kehadiran dan pengawasan Allah SWT atas setiap
keadaan lahir maupun batin seorang hamba. Ini adalah level atensi tertinggi
yang bersifat spiritual. Sejumlah penelitian kontemporer bahkan telah
mengeksplorasi praktik muraqabah sebagai strategi untuk mengatasi
gangguan mental dan emosional, termasuk depresi, kecemasan, gangguan
kepribadian, hingga defisit atensi. Jika sustained attention dalam
psikologi Barat berfokus pada pengendalian fokus kognitif, muraqabah
menanamkan "rem moral" yang bersumber dari kesadaran transendental—sebuah
mekanisme pengawasan internal yang tidak bergantung pada ada atau tidaknya
kamera, saksi, atau sanksi sosial.
Panggilan
Prodi Tasawuf dan Psikoterapi: Menyembuhkan dari Akar
Di sinilah letak urgensi dan relevansi Program Studi Tasawuf dan
Psikoterapi. Mungkin bagi sebagian orang, nama prodi ini terdengar asing atau
bahkan dianggap kurang "strategis". Padahal, jika kita cermati, prodi
ini justru hadir sebagai respons strategis terhadap krisis multidimensi yang
melanda generasi muda kita saat ini—mulai dari krisis moral hingga kehampaan
eksistensial di era digital. Prodi ini secara sadar mengintegrasikan ajaran
tasawuf (spiritualitas Islam) dengan pendekatan psikoterapi modern, menciptakan
sebuah pendekatan penyembuhan yang holistik—tidak hanya mengobati gejala di
permukaan, tetapi juga menyentuh akar spiritual dari perilaku menyimpang.
Lulusan program studi ini di tingkat sarjana diharapkan mampu berperan sebagai
asisten psikoterapis sufistik, praktisi sufi healing, hingga konselor
spiritual yang mengintegrasikan pendekatan spiritual dan psikologis dalam
layanan kesejahteraan mental masyarakat (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025).
Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri adalah salah satu
kampus yang turut mengambil peran penting dalam pengembangan keilmuan ini. Pada
29–31 Oktober 2025, kampus ini menjadi tuan rumah Konferensi Nasional IX
Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (KOTATERAPI) yang dihadiri oleh
berbagai perwakilan dari perguruan tinggi Islam negeri di seluruh Indonesia
(Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025). Konferensi ini dibuka secara resmi oleh
Prof. Dr. Dimyati Huda, Wakil Rektor III UIN Syekh Wasil Kediri, yang
memberikan apresiasi atas peran KOTATERAPI dalam pengembangan keilmuan tasawuf
di Indonesia (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025). Dalam forum tersebut, para
akademisi UIN Syekh Wasil Kediri bersama kolega dari berbagai kampus lain
menegaskan pentingnya pendekatan integratif antara spiritualitas dan ilmu
kesehatan mental untuk menjawab kompleksitas masalah mental-spiritual di era
modern.
Menata
Ulang Masa Depan Pendidikan Tinggi
Pada akhirnya, apa yang terjadi di FH UI dan ITB adalah tamparan
halus bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa prestasi akademik tanpa integritas
adalah bencana. Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak gelar dan
pemburu IPK semata. Ia harus menjadi rumah yang aman, laboratorium etika, dan
taman persemaian bagi lahirnya manusia-manusia yang tidak hanya tajam
pikirannya, tetapi juga bening mata hatinya.
Untuk mewujudkan itu, bangsa ini memerlukan lebih banyak sarjana
yang tidak sekadar fasih menukil teori-teori Sigmund Freud tentang struktur
kepribadian, atau mahir mengurai pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin
secara terpisah. Kita membutuhkan generasi baru yang mampu merajut keduanya
menjadi satu hela napas yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan—sebuah sintesis
langka antara ketajaman analisis psikologi modern dan kedalaman kontemplasi
spiritual klasik. Inilah sesungguhnya esensi paling otentik dari perjumpaan intelektual
antara Tasawuf dan Psikoterapi: sebuah ikhtiar akademik untuk tidak hanya
mendiagnosis patologi jiwa, tetapi juga menuntunnya kembali ke fitrah
kesuciannya.
Maka, kepada para orang tua yang tengah gelisah membaca berita
tentang krisis moral di kampus-kampus elite; kepada keluarga, sahabat, dan
tetangga yang merindukan lahirnya generasi yang tidak hanya cemerlang secara
intelektual tetapi juga kokoh secara karakter; kepada siapa pun yang masih
percaya bahwa pendidikan harus mampu menyentuh wilayah hati yang paling
dalam—inilah saat yang tepat untuk menaruh perhatian pada Program Studi
Tasawuf dan Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri. Prodi ini menawarkan lebih dari
sekadar gelar akademik. Ia menjanjikan sebuah perjalanan transformatif: menempa
para mahasiswanya menjadi pribadi yang memiliki muraqabah—kesadaran
intim akan kehadiran Ilahi yang menjadi benteng moral paling tangguh dari
segala bentuk penyimpangan dan degradasi etika. Di tengah lanskap pendidikan
tinggi yang kian gaduh oleh ironi dan paradoks, prodi ini hadir laksana oase
intelektual yang menawarkan jalan pulang menuju martabat kemanusiaan yang
sejati.
Sebab, pada akhirnya, Indonesia tidak pernah kekurangan orang-orang
pintar. Yang senantiasa ia rindukan adalah hadirnya lebih banyak orang baik—mereka
yang berani merawat kebenaran meski dalam sunyi, dan menjaga integritas bahkan
ketika tak ada sepasang mata pun yang menyaksikan. Dan di kampus UIN Syekh
Wasil Kediri, tepat di jantung “laboratorium” Tasawuf dan Psikoterapi, para
calon penjaga mata hati bangsa itu tengah ditempa dengan penuh kesabaran dan
ketekunan ilmiah.
Fuda Jokoriyo, 16-04-26.


