Unggul dalam Pengembangan Ilmu Keislaman dan Sosial Keagamaan Berbasis Kearifan Lokal dan Sains di Tingkat Internasional

Contact Info

Jl. Sunan Ampel, Ngronggo, Kec. Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64129
[email protected]
0354 - 689282

Follow Us

KETIKA KAMPUS GAGAL MENDIDIK HATI: URGENSI PENDEKATAN TASAWUF PSIKOTERAPI DALAM MEMULIHKAN ETIKA AKADEMIK

Oleh:

Ach. Shodiqil Hafil

(Kaprodi Tasawuf Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri)

 

Pekan ini, ruang publik dikejutkan oleh dua peristiwa yang lahir dari rahim kampus-kampus terpandang di negeri ini. Yang pertama adalah terkuaknya dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) melalui grup percakapan bernama "Basecamp Puri Asih"—sebuah nama yang diambil dari indekos tempat para mahasiswa itu tinggal bersama (Kompas.com, 15 April 2026). Grup tersebut menjadi panggung bagi perendahan martabat terhadap sedikitnya 20 mahasiswi dan 7 dosen yang nama serta foto-foto mereka dijadikan objek pembicaraan bernada vulgar dan menghina (Kompas.id, 14 April 2026). Ironi yang paling menyayat hati justru terletak pada identitas para pelaku: mereka adalah mahasiswa hukum, orang-orang yang sehari-hari bergelut dengan norma, keadilan, dan undang-undang. "Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjadi alarm keras. Pelanggaran hukum justru terjadi di tempat orang belajar hukum," tegas Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) (Antara, 14 April 2026).

Belum reda guncangan dari Depok, publik kembali disuguhi video lawas yang kembali viral. Kali ini dari Bandung. Sebuah rekaman yang menampilkan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah asyik bernyanyi dan menari, baik mahasiswa maupun mahasiswi, mengikuti irama lagu berjudul "Erika" (Kompas.com, 15 April 2026). Lirik lagu tersebut dinilai sarat dengan konten vulgar dan objektifikasi terhadap perempuan. Yang lebih memilukan, lagu ini bukanlah karya baru yang mendadak muncul. Pihak HMT-ITB menjelaskan bahwa Orkes Semi Dangdut telah berdiri sejak 1970-an, sementara lagu "Erika" diciptakan pada era 1980-an dan terus dinyanyikan dari generasi ke generasi tanpa pernah dipertanyakan ulang nilai-nilai yang dikandungnya (Harian Disway, 15 April 2026). Pihak HMT-ITB akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan mengakui adanya "kelalaian karena tetap menampilkan lagu tersebut tanpa mempertimbangkan perubahan norma sosial dan nilai kesusilaan yang berkembang di masyarakat saat ini" (Kompas.com, 15 April 2026).

Dua peristiwa ini, meski berbeda lokasi dan konteks, menyimpan benang merah yang sama: krisis etika di ruang-ruang yang seharusnya menjadi benteng peradaban. JPPI mencatat, sepanjang Januari hingga Maret 2026 saja, telah terjadi 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, dengan kekerasan seksual mendominasi sebesar 46 persen (BBC News Indonesia, 14 April 2026). "Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan bukan lagi insiden sporadis, melainkan fenomena sistemik yang terjadi secara berulang dan tersebar luas," ujar Ubaid Matraji (Pikiran Rakyat, 15 April 2026).

 

Ketika Kecerdasan Kehilangan Mata Hati

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ruang-ruang akademik yang katanya menjadi laboratorium etika dan rasionalitas justru berubah menjadi panggung bagi kesombongan struktural dan kekerasan simbolik? Analisis dari Mubadalah.id menegaskan bahwa kekerasan seksual di perguruan tinggi tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari struktur sosial yang lebih luas. Widiantini (2021) menegaskan bahwa kekerasan seksual di kampus tidak dapat dipisahkan dari budaya patriarki dan rape culture—situasi yang membuat relasi kuasa menjadi timpang dan korban sering kali tidak mendapatkan perlindungan yang memadai (Mubadalah.id, 15 April 2026). Dalam konteks FH UI, para pelaku mayoritas berasal dari latar belakang sosial-ekonomi mapan, sekolah-sekolah elite di Jakarta Selatan, dan jejaring "jalur orang tua"—sebuah potret sosiologis yang jujur tentang bagaimana privilese dapat melanggengkan ketimpangan dan kekerasan simbolik di ruang akademik (unggahan Instagram @rian.fahardhi, April 2026).

Di titik inilah, kita perlu melirik sebuah pendekatan yang mungkin selama ini terpinggirkan dalam diskursus pendidikan tinggi arus utama: integrasi spiritualitas dalam psikoterapi. Dalam diskusi yang berkembang di kalangan akademisi, muncul istilah sustained attention atau atensi berkelanjutan—sebuah konsep dalam psikologi kognitif yang merujuk pada kemampuan mempertahankan fokus dan konsentrasi dalam jangka waktu panjang. Masalahnya, di era banjir informasi dan distraksi digital, atensi kita sebagai masyarakat sering kali pendek dan mudah teralihkan. Kita sibuk bereaksi terhadap viralitas, tetapi gagal merawat akar masalah secara berkelanjutan.

Nah, dalam khazanah Islam, ada sebuah konsep yang jauh lebih dalam dan transformatif: muraqabah. Secara etimologis, istilah ini berasal dari akar kata Arab ra-qa-ba yang berarti "mengawasi, mengamati, memerhatikan dengan saksama". Tujuan dari muraqabah adalah menumbuhkan kesadaran akan kehadiran dan pengawasan Allah SWT atas setiap keadaan lahir maupun batin seorang hamba. Ini adalah level atensi tertinggi yang bersifat spiritual. Sejumlah penelitian kontemporer bahkan telah mengeksplorasi praktik muraqabah sebagai strategi untuk mengatasi gangguan mental dan emosional, termasuk depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, hingga defisit atensi. Jika sustained attention dalam psikologi Barat berfokus pada pengendalian fokus kognitif, muraqabah menanamkan "rem moral" yang bersumber dari kesadaran transendental—sebuah mekanisme pengawasan internal yang tidak bergantung pada ada atau tidaknya kamera, saksi, atau sanksi sosial.

 

Panggilan Prodi Tasawuf dan Psikoterapi: Menyembuhkan dari Akar

Di sinilah letak urgensi dan relevansi Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi. Mungkin bagi sebagian orang, nama prodi ini terdengar asing atau bahkan dianggap kurang "strategis". Padahal, jika kita cermati, prodi ini justru hadir sebagai respons strategis terhadap krisis multidimensi yang melanda generasi muda kita saat ini—mulai dari krisis moral hingga kehampaan eksistensial di era digital. Prodi ini secara sadar mengintegrasikan ajaran tasawuf (spiritualitas Islam) dengan pendekatan psikoterapi modern, menciptakan sebuah pendekatan penyembuhan yang holistik—tidak hanya mengobati gejala di permukaan, tetapi juga menyentuh akar spiritual dari perilaku menyimpang. Lulusan program studi ini di tingkat sarjana diharapkan mampu berperan sebagai asisten psikoterapis sufistik, praktisi sufi healing, hingga konselor spiritual yang mengintegrasikan pendekatan spiritual dan psikologis dalam layanan kesejahteraan mental masyarakat (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025).

Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri adalah salah satu kampus yang turut mengambil peran penting dalam pengembangan keilmuan ini. Pada 29–31 Oktober 2025, kampus ini menjadi tuan rumah Konferensi Nasional IX Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (KOTATERAPI) yang dihadiri oleh berbagai perwakilan dari perguruan tinggi Islam negeri di seluruh Indonesia (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025). Konferensi ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Dimyati Huda, Wakil Rektor III UIN Syekh Wasil Kediri, yang memberikan apresiasi atas peran KOTATERAPI dalam pengembangan keilmuan tasawuf di Indonesia (Suara Metropolitan, 30 Oktober 2025). Dalam forum tersebut, para akademisi UIN Syekh Wasil Kediri bersama kolega dari berbagai kampus lain menegaskan pentingnya pendekatan integratif antara spiritualitas dan ilmu kesehatan mental untuk menjawab kompleksitas masalah mental-spiritual di era modern.

 

Menata Ulang Masa Depan Pendidikan Tinggi

Pada akhirnya, apa yang terjadi di FH UI dan ITB adalah tamparan halus bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa prestasi akademik tanpa integritas adalah bencana. Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak gelar dan pemburu IPK semata. Ia harus menjadi rumah yang aman, laboratorium etika, dan taman persemaian bagi lahirnya manusia-manusia yang tidak hanya tajam pikirannya, tetapi juga bening mata hatinya.

Untuk mewujudkan itu, bangsa ini memerlukan lebih banyak sarjana yang tidak sekadar fasih menukil teori-teori Sigmund Freud tentang struktur kepribadian, atau mahir mengurai pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin secara terpisah. Kita membutuhkan generasi baru yang mampu merajut keduanya menjadi satu hela napas yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan—sebuah sintesis langka antara ketajaman analisis psikologi modern dan kedalaman kontemplasi spiritual klasik. Inilah sesungguhnya esensi paling otentik dari perjumpaan intelektual antara Tasawuf dan Psikoterapi: sebuah ikhtiar akademik untuk tidak hanya mendiagnosis patologi jiwa, tetapi juga menuntunnya kembali ke fitrah kesuciannya.

Maka, kepada para orang tua yang tengah gelisah membaca berita tentang krisis moral di kampus-kampus elite; kepada keluarga, sahabat, dan tetangga yang merindukan lahirnya generasi yang tidak hanya cemerlang secara intelektual tetapi juga kokoh secara karakter; kepada siapa pun yang masih percaya bahwa pendidikan harus mampu menyentuh wilayah hati yang paling dalam—inilah saat yang tepat untuk menaruh perhatian pada Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Syekh Wasil Kediri. Prodi ini menawarkan lebih dari sekadar gelar akademik. Ia menjanjikan sebuah perjalanan transformatif: menempa para mahasiswanya menjadi pribadi yang memiliki muraqabah—kesadaran intim akan kehadiran Ilahi yang menjadi benteng moral paling tangguh dari segala bentuk penyimpangan dan degradasi etika. Di tengah lanskap pendidikan tinggi yang kian gaduh oleh ironi dan paradoks, prodi ini hadir laksana oase intelektual yang menawarkan jalan pulang menuju martabat kemanusiaan yang sejati.

Sebab, pada akhirnya, Indonesia tidak pernah kekurangan orang-orang pintar. Yang senantiasa ia rindukan adalah hadirnya lebih banyak orang baik—mereka yang berani merawat kebenaran meski dalam sunyi, dan menjaga integritas bahkan ketika tak ada sepasang mata pun yang menyaksikan. Dan di kampus UIN Syekh Wasil Kediri, tepat di jantung “laboratorium” Tasawuf dan Psikoterapi, para calon penjaga mata hati bangsa itu tengah ditempa dengan penuh kesabaran dan ketekunan ilmiah.

 

Fuda Jokoriyo, 16-04-26.


Berita Lainnya