DISKUSI DOSEN EDISI AGUSTUS, AKADEMISI FUDA UIN KEDIRI DORONG PENGUATAN LITERASI

FUDA Newsroom – Perubahan lanskap komunikasi digital yang serba cepat dan berbasis algoritma membawa tantangan serius terhadap kedalaman pengetahuan serta otoritas keagamaan. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUDA) UIN Syekh Wasil Kediri bertajuk “Revolusi Komunikasi dan Tantangan Keberagamaan” di Musala Lantai 1 Gedung FUDA, Senin (10/08/2026).

Seminar ilmiah ini menghadirkan dua akademisi FUDA, Ropingi dan Prima Ayu Rizqi Mahanani, serta disimak langsung oleh Profesor Emeritus Fauzan Saleh.

Ropingi memaparkan bahwa teknologi digital, kecerdasan buatan, dan media sosial telah meruntuhkan batasan ruang dan waktu dalam penyebaran informasi. Namun, kondisi ini diiringi maraknya komodifikasi agama, fenomena echo chamber, hingga pergeseran otoritas keagamaan di ruang publik.

"Komunikasi kini berlangsung cepat, luas, dan tanpa batas geografis. Namun, tantangan terbesarnya adalah tidak semua materi keagamaan di media berlandaskan pijakan keilmuan yang valid," ujar Dr. Ropingi.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Prima Ayu Rizqi Mahanani, M.Si. menyoroti dominasi algoritma mesin dalam membentuk attention economy (ekonomi perhatian) masyarakat modern. Kondisi ini berisiko mereduksi ekspresi keagamaan sebatas angka statistik di media sosial.

"Komunikasi tidak lagi berlangsung hanya antarmanusia, tetapi melibatkan mesin yang menyeleksi dan menilai makna. Dalam attention economy, kesalehan berpotensi dikomodifikasi karena ekspresi religius diukur dari views, likes, dan engagement. Padahal, kedalaman spiritual tidak pernah dapat diukur hanya dengan jumlah klik," tegas Prima Ayu.

Meretetas fenomena pendangkalan pengetahuan (over-simplification) tersebut, Profesor Emeritus Fauzan Saleh menekankan perlunya perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), khususnya Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) FUDA, untuk mengambil peran aktif di ruang digital.

"Kampus dan Prodi KPI harus memanfaatkan kekuatan algoritma tanpa kehilangan fungsi dakwahnya. Kehadiran akademisi di ruang digital sangat krusial agar narasi keagamaan tidak dikuasai oleh pihak yang pandai memproduksi konten tetapi minim pengetahuan keagamaan yang memadai," imbau Prof. Fauzan Saleh.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 30 peserta dari unsur pimpinan, dosen antarprodi di lingkungan FUDA, hingga mahasiswa ini berlangsung sangat hangat dan interaktif. Antusiasme peserta tampak dari mengalirnya pertanyaan-pertanyaan strategis dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Diskusi berkala ini ditutup dengan kesepakatan bersama mengenai pentingnya penguatan literasi digital, penalaran kritis, dan regulasi etika komunikasi guna menjaga mutu serta kedalaman pengetahuan keagamaan masyarakat di era digital.

Kontributor: Asy’ari

Editor: Fuat Hasan


Berita Lainnya